Laman

Rabu, 11 Mei 2011

Martha Graham, Pionir Tari Modern

Hari ini dunia memperingati kelahiran Martha Graham (lahir 11 Mei 1894, meninggal 1 April 1991). Ia dikenal sebagai koreografer berpengaruh dan merupakan pionir dalam tarian-tarian modern (modern dance). Begitu berpengaruhnya sampai-sampai ia disejajarkan dengan Picasso, seniman yang berasal dari jenis seni lain yaitu pelukis.
Lahir di Pennsylvania, ayah Martha adalah seorang psikolog. Pada saat itu, ilmu psikologi memang belum begitu poluler. Namun berkat profesi itu pula, ayah Martha bisa membuat keluarganya hidup berkecukupan.

Martha sudah tertarik pada dunia tari, sejak kecil. Tahun 1914, ia belajar tarian etnik di Sekolah Denishawn, Hollywood. Bakatnya terlihat oleh Ted Shawn, koreograferulung yang menciptakan aneka tari balet. Ted lalu menciptakan tarian tentang suku Aztec (yang ia beri nama "Xochitl"), khusus bagi Martha. Kemudian dari tahun 1923 hingga 1925, Martha menari di Greenwich Village Follies.

Selanjutnya, Martha bekerja di George Eastman, sebuah sekolah desain. Di sekolah ini, ia bertemu Rouben Mamoulian yang menjabat kepala bagian drama. Perkenalan itu membawa Martha terlibat dalam pembuatan pertunjukan seni dan juga film, berkerja sama dengan Rouben. Sebagai proyek awal, mereka memproduksi sebuah film pendek yang berjudul "The Flute of Krishna", yang menampilkan siswa-siswa Eastman sebagai para pemainnya.

Lalu, Martha mendirikan Dance Repertory Theater sebagai pusat tari kontemporer. Dengan cepat, ia terkenal. Metode mengajarnya unik, menekankan pentingnya kontraksi pada bagia dan menggunakan pernapasan yang berhubungan dengan gerakan.
 

Tahun 1932, dia menjadi penari pertama yang menerima beasiswa Guggenheim. Dia menciptakan sejumlah tarian yang diilhami oleh wanita-wanita ternama. Beberapa karyanya antara lain Letter to the World (1940),Death and Entrances (1943), Cave of the Hearth (1946), Clytemnestra (1958), dan sebagainya.

Menjelang akhir hayatnya ia bahkan masih berkarya. Salah satu ciptaannya, The Eyes of the Goddess (1991), sayangnya tak sempat ia selesaikan.

Sabtu, 07 Mei 2011

Tex Saverio: Karyanya Dipakai Lady Gaga


Tiba-tiba saja nama "Tex Saverio" menjadi berita di mana-mana. Pemuda berusia 26 tahun ini menggoncangkan jagat dunia fashion Indonesia karena hasil karyanya dikenakan penyanyi top dunia saat ini, Lady GaGa. Setelah itu banyak orang yang ingin tahu kenapa penyanyi asal Amerika Serikat itu mau mengenakan baju rancangan Tex, lelaki kelahiran Jakarta, 28 Agustus 1984.
Bagi kalangan dunia fashion Indonesia, nama "Tex" sebenarnya tidak begitu saja muncul. Ketika usianya menginjak 20 tahun, lelaki yang menempuh pendidikan fashion-nya di Bunka School of Fashion Jakarta (2003-2004) dan Phalie Studio Jakarta (2004-2005) ini, memenangkan Mercedes Benz Asia Fashion Award 2005. Pada saat itu disebut-sebut telah lahir calon fashion designer kelas dunia asal Indonesia yang akan bersinar di kancah dunia.
 
Tex Saverio dan karyanya

Tex mulai menemukan bakatnya di bidang fashion ketika ia masih duduk di bangku SMA. Ia memang hobi menggambar sejak kecil. Karena hobinya itu ia bahkan menggambar di tengah pelajaran. Sampai-sampai ia ditegur gurunya, yang kemudian menyarankan agar ia masuk sekolah mode saja. Karena itu ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah fashion yang ada di Jakarta.

Dengan bekal pendidikan fashion, Tex mulai merancang pakaian hasil desainnya. Ciri khasnya adalah memadukan lipit-lipit, bordir, dan jumbai benang pada hasil karyanya. Untuk mendapatkan detail suatu rancangannya ia sampai menghabiskan 300-an meter pita dan 200 meter organsa sebagai dekoratif busana rancangannya. Karena itu, untuk menyusunnya diperlukan ketekunan dan kesabaran. "Tiga gaun (saya) dipersembahkan dengan menggunakan korset terbuat dari besi," katanya seperti dikutip www.bataviase.co.id

Sejak masih sekolah ia rajin mengikutsertakan karyanya pada sejumlah perlombaan. Tahun 2003, ia berhasil menjadi salah satu finalis ajang Concours International de Jeunes Createurs de Mode Indonesia, yaitu ajang lomba desain fashion bagi para siswa desain busana yang diselenggarakan Majalah Dewi.

Tahun 2005 ia ikut perlombaan busana di Singapura. Di lomba ini, ia menyertakan karyanya bertajuk "Dualism" yang mengangkat isu transgender yaitu busana yang bisa "bertransformasi" dari busana wanita menjadi busana pria. Kemudian dari ajang bernama Mercedes-Benz Asia Fashion Award, seperti sudah disebutkan di atas, Tex meraih gelar juara.

Meski prestasinya bagus di ajang lomba, namanya belum begitu populer. Tahun lalu, Tex bersama tiga alumnus Lomba Perancang Mode (LPM) Femina--Albert Yanuar, Hian Tjen, dan Imelda Kartini--menggelar show bersama yang bertajuk "Rejuvenate Fashion Regeneration".Tex tampil dengan koleksi bertema "My Courtesan" yang memperlihatkan ciri khasnya. Karyanya itu segera mendapat perhatian pegamat mode Indonesia. Di ajang Jakarta Fashion Week pada saat berikutnya, namanya mulai banyak disebut-sebut sebagai perancang busana berbakat Indonesia.
 
Karya Tex dipakai Lady Gaga di majalah Harper's Bazaar edisi Mei 2011

Kekuatan karyanya makin diakui setelah karyanya dikenakan Lady GaGa yang tampil di majalah Harper's Bazaar edisi bulan ini, yang mendapat pujian dunia dan menghebohkan dunia fashion Indonesia. "Saya sangat senang, bangga,semua campur aduk jadi satu. Senang karena koleksi saya dipakai figur internasional seperti Lady GaGa, dan bangga karena bisa sejajar dengan nama-nama besar seperti Dior,Versace, Alexander McQueen, dan Thierry Mugler," ujarnya.

Satu lagi perancang berbakat Indonesia telah lahir dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Luar biasa!!

Jumat, 06 Mei 2011

MANHATTAN 1609 vs. 2009: Natural Wonder to Urban Jungle


 Dikatakan oleh Albert Einstein bahwa salah satu keajaiban dunia
adalah bunga-berbunga. Pembelian Pulau Manhattan dikatakan menjadi
salah satu transaksi terbesar sepanjang masa. New York dibeli seharga
US$24 dengan perhiasan dan manik-manik. Namun, jika US$24 itu
diinvestasikan, dengan bunga 8% per tahun, US$24 itu akan bernilai lebih
dari US$28 trilyun pada tahun 1995.
 
 
 


Sejarah singkat:
Sebelum menjadi sebuah kota besar manhattan dulunya adalah pulau yang memilik banayk hutan. Nama Manhattan ("pulau berbukit" atau mungkin "tempat keracunan") berasal dari bahasa Algonquin yang merupakan suku pemukim terawal di daerah itu. Menurut legenda, pulau Manhattan dibeli dari suku setempat seharga 24 dolar dalam bentuk perhiasan batu dan lainnya. Tetapi penjelajahnya membayar kepada suku yang salah, yang dengan senang hati menerima pembayaran untuk pulau yang bukan milik mereka. Penjelajah Eropa yang menemukan Manhattan untuk pertama kali yang diakui secara umum ialah Henry Hudson dari Inggris yang berlayar untuk kerajaan Belanda. Ia masuk untuk pertama kalinya melalui Semenanjung Atas New York (Upper New York Bay) pada tanggal 11 September 1609 dan berlayar hingga bagian bawah Sungai Hudson, kemudian berlabuh di ujung utara Manhattan pada malam itu. Tetapi penjelajah yang masuk ke pelabuhan New York lebih awal ialah Giovanni da Verrazano yaitu pada tahun 1524, dan beberapa bulan berikutnya penjelajah dari Portugis yaitu Estevan Gomez; yang terakhir ini juga mengenal Sungai Hudson (dengan menyebutnya Rio de San Antonio), dan kedua-keduanya, kemungkinan besar, telah melihat pulau Manhattan sewaktu melewati pelabuhan New York.

Pulau tersebut akhirnya ditempati oleh pihak Belanda dan dinamakan New Amsterdam (bahasa Belanda: Nieuw Amsterdam) pada tahun 1624.

Selanjutnya, nama New York County digunakan untuk menghargai bangsawan Inggris, Duke of York, yang akhirnya menjadi Raja Katolik Inggris James II, yang namanya juga digunakan untuk kota dan negara bagian New York.

Dengan program komputer yang bernama “Muir webs", didapatkan ilustrasi pulau manhattan 400 tahun yang lalu sebagai berikut

Spoiler for




















Pengikut