Laman

Jumat, 25 Maret 2011

Garam dalam Air

Alkisah, tampak seorang murid berwajah murung akhir-akhir ini. Ia mengerjakan segala sesuatu dengan gelisah dan tidak bersemangat, seakan banyak masalah yang ada di pikirannya. Sang guru yang memperhatikan murid tersebut, memanggil ke ruangannya dan berkata:

"Bapak perhatikan, kenapa kamu selalu murung anakku? Bukankah banyak hal indah di kehidupan ini? Ke mana perginya wajah ceria dan bersemangat kepunyaanmu dulu?"

"Guru, belakangan ini hidup saya sedang penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang tidak ada habis-habisnya. Serasa tak ada lagi sisa untuk kegembiraan," jawab si murid sambil tertunduk lesu.

Sambil tersenyum bijak sang guru berkata,"Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam di dapur. Bawalah kemari. Biar bapak coba perbaiki suasana hatimu itu."

Si murid pun bergegas melakukan permintaan gurunya sambil berharap dalam hati mudah-mudahan gurunya memberi jalan keluar bagi permasalahan hidupnya.

Setibanya di hadapan sang guru, "Ambil garamnya dan masukkan ke segelas air itu, kemudian aduk dan coba kamu minum."

Wajah si murid langsung meringis setelah meminum air asin tersebut.

"Bagaimana rasanya?" tanya sang guru dengan senyum lebar di bibirnya.

"Asin, tidak enak, dan perutku rasanya jadi mual," jawab si murid dengan wajah masih meringis.

Kemudian sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. Danau itu begitu indah, airnya bening karena sumber air alam yang selalu mengairi di situ.

"Ambil air garam dan garam yang tersisa dan tebarkan ke danau," perintah sang guru. Si murid dengan patuh memenuhi permintaan gurunya.

"Sekarang, coba kamu minum sedikit air danau itu". Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air di danau dan meminumnya. "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid. "Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah sini."

"Terasakah rasa garam yang kamu tebarkan tadi?"

"Tidak, tidak sama sekali guru," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.

"Nak, segala masalah dalam hidup ini sama seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Rasa 'asin' sama seperti masalah, kesulitan, penderitaan yang dialami setiap manusia, dan tidak ada manusia yang bebas dari permasalahan dan penderitaan. Benar kan?

Tetapi Nak, seberapa rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami setiap manusia sesungguhnya tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Maka, jangan memiliki kesempitan hati seperti gelas tadi, tetapi jadikan hatimu menjadi sebesar danau sehingga semua kesulitanmu tidak akan mengganggu rasa di jiwamu dan kamu tetap bisa bergembira walaupun sedang dilanda masalah. Nah, mudah-mudahan penjelasan gurumu ini bisa memperbaiki suasana hatimu."

Netter yang Luar Biasa!!

Seorang filsuf besar pernah berkata, "Life is suffering. Hidup adalah penderitaan". Memang, kenyataan di kehidupan ini adalah, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita, membuat kita menderita.

Kadar penderitaan, tentu setiap orang berbeda. Tergantung cara pandang dan keikhlasan kita dalam menyesuaikan dengan selera kita. Maka selayaknya kita harus terus belajar dan memperluas wawasan kebijaksanaan, agar jangan sampai masalah yang menguasai kita. Tetapi kitalah yang mengendalikan masalah. Sehingga, masalah yang datang bukan lagi dipandang sebagai penderitaan, tetapi bagian dari kehidupan yang harus kita jalani.

Profesi Yang Mahadahsyat

Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan di harian Suara Merdeka yang berjudul JANGAN MALU MENJADI SIMBOK. Bagi saya, judul tersebut sangat membumi namun sekaligus membuat bulu kuduk saya berdiri (apa iya sudah banyak perempuan yang sekarang ini malu HANYA karena menjadi simbok?)
Di dalam ulasan tersebut ada kutipan dari seorang guru besar emeritus Universitas Airlangga Surabaya yang sangat menarik. "Bagi saya, kita harus mulai dari yang kecil. Demokrasi misalnya, harus dimulai dari family(keluarga). Democracy on the heart of the family. Apa yang saya lakukan adalah menyelamatkan negaraku sendiri. Negaraku itu bukan negaranya Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono, tapi ‘negaraku' itu keluargaku." (Kompas, 27 Juni 2008)
Sungguh, hal tersebut merupakan konsep berpikir yang sangat sederhana, tetapi membutuhkan banyak pengorbanan dan keberanian yang luar biasa. Mengapa saya berkata demikian?
Bagi saya seorang awam, saat melihat potret para pemimpin bangsa ini, yang terdiri dari orang-orang hebat, orang-orang luar biasa pintar, saya sering bertanya, "Lah mengapa kalau para pimpinan kita ini sudah dokter, profesor, sarjana hukum, sarjana lain-lain kok masih saja negeri ini melarat ya? Kok ya masih saja orang tega korupsi, padahal mereka orang-orang yang berotak cemerlang, orang-orang yang saya yakin bisa membaca dengan lengkap instruksi atau petunjuk pelaksanaan suatu program dengan tepat. Mereka orang-orang yang berpengetahuan luas luar biasa. Atau jangan-jangan waktu sekolah dulu ada mata pelajaran tentang korupsi, abuse of power? Mengapa mereka memilih untuk beriklan besar-besaran di media televisi dengan begitu seringnya? Lah mbok ya uangnya buat nyumbang korban bencana banjir saja yo ... Kan lebih kelihatan manfaatnya? (Itu pikiran sederhana dari saya lo...)
Setelah merenung beberapa saat (maklum, bukan profesor, jadi butuh waktu agak lama untuk berpikir), saya kemudian menyimpulkan, "Berarti ada yang salah di sini, pengetahuannya tidak salah, tapi saya kira mindset(cara berpikir) mereka yang salah." Pertanyaan kemudian yang muncul adalah, "Di mana ya ada sekolah yang mengajarkan bagaimana caranya mempunyai mindset yang benar?"
Di sinilah peran ‘SIMBOK'. Di sinilah peran keluarga.
Terkadang tanpa disadari karena kesibukan sebagai seorang ibu, kita semua mengandalkan sekolah sebagai satu-satunya media di mana anak kita akan ‘dididik untuk menjadi orang besar'.
Sebagai seorang ayah, karena kesibukan mencari nafkah, kita mengandalkan istri sebagai ibu dan penanggung jawab sepenuhnya perkembangan anak-anak.
Saling ‘mempercayakan' kepada pihak pihak lain inilah yang menyebabkan kekacauan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari pun kita sudah sering kali mengeluh dan berkata, ‘Opo-opo ki nek ora dikerjakne dhewe yo dadine ora genah ngene iki! Apa-apa kalau tidak dikerjakan sendiri ya jadinya seperti ini!" Lah!!! Itu saja dalam konteks pekerjaan, lah ini tentang anak-anak, tentang generasi penerus kita, kok ya bisa kita pasrahkan begitu saja?
Lembaga pendidikan adalah tempat mendapatkan pengetahuan, tempat mendapatkan resep adonan roti, lingkungan adalah tempat membeli bahan-bahan yang diperlukan, sedangkan keluarga adalah tempat memanggang adonan tersebut. Keluargalah yang menentukan apakah roti yang dihasilkan pas, matang dan enak, atau hanya akan menjadi gosong, jadi arang dan akhirnya dibuang.
Jika seorang anak mempelajari tentang arti kata ‘alasan', maka simbok yang mengajarkan bahwa ‘bukan hanya untuk membenarkan diri sendiri'.
Jika seorang anak mempelajari tentang arti kata ‘memuji', maka simbok yang mengajarkan bahwa ‘bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri'.
Jika seorang anak mempelajari tentang arti kata ‘negosiasi', maka simbok yang mengajarkan bahwa ‘bukan hanya untuk bisa menerima komisi'.
Jika seorang anak mempelajari tentang arti kata ‘kekayaan', maka simbok yang mengajarkan bahwa ‘bukan hanya untuk dibawa mati'.
Jika seorang anak mempelajari tentang arti kata ‘kekuasaan', maka simbok yang mengajarkan bahwa ‘bukan hanya untuk menekan pihak yang lemah'.
Jika beberapa hal di atas dilakukan oleh para simbok dengan benar, konsisten, dan penuh keberanian untuk melakukan apa yang mereka katakan sendiri, maka saya YAKIN bangsa ini tidak perlu terlalu lama menunggu datangnya perubahan.
Jika generasi muda dididik dengan pengertian benar, mereka akan tumbuh dengan nurani yang benar, dan pada saatnya berlaku dengan benar, dan kemudian hanya bisa melakukan yang benar, karena itu sudah menjadi karakter dan kebiasaan hidup.
Saya sangat mendukung jika saat ini kesetaraan gender sedang didengung-dengungkan. Karena, dengan majunya seorang figur ‘simbok' menjadi pimpinan, dapat menginspirasi banyak perempuan-perempuan Indonesia lain untuk ikut berkarya.
Tetapi jika harus memilih, saya memilih di Indonesia lebih banyak:
  • Simbok-simbok yang hanya berjualan di pasar, tetapi punya cukup waktu untuk meninabobokan anak mereka dengan cerita tentang Pandawa dan Kurawa.
  • Simbok-simbok yang hanya berpakaian sederhana, tetapi punya cukup waktu untuk bersama-sama anak mereka mengerjakan tugas sekolah yang ada.
  • Simbok-simbok yang rela mengantuk dan berwajah kuyu demi menemani anak-anak mereka belajar untuk mempersiapkan ujian dan bahkan membuatkan kue camilan kecil.
  • Simbok-simbok yang rela mengorbankan uang belanja kosmetik dan perawatan salon mereka demi membantu anak mereka yang bergabung dengan karang taruna yang hendak membangun perpustakaan desa.
  • Simbok-simbok yang rela tidak mengenakan baju dan tas jutaan rupiah karena anaknya ingin mengadakan syukuran ulang tahun dengan mengundang anak asuh.
Bagi semua simbok-simbok di antero Nusantara, semoga pada saatnya ketika alam mendukung, akan ada bibit-bibit muda pejuang bangsa yang bernurani luhur yang lahir dari tanganmu.
Salam hormat luar biasa !!!!!!!

Bob Williamson: Hampir Bunuh Diri Tapi Memilih Bangkit

Sukses bisnis kadang diraih melalui kombinasi antara kerja keras dan keberuntungan yang tampak sederhana. Salah satu yang mendapatkannya adalah Bob Williamson.Bob memang beruntung dan menjadi pengusaha hampir karena kecelakaan. Tapi sebenarnya ia berhasil karena memiliki semangat kuat untuk memperbaiki nasibnya yang salah arah di waktu muda.

Bob lahir dari seorang ayah tentara. Sejak kecil selalu berpindah-pindah tempat tinggal, begitupun sekolahnya. Karena sering pindah ia hampir tak punya sahabat. Selain itu jiwanya juga labil. Tukang bikin onar di sekolah atau di luar sekolah, suka berkelahi, dan sebagainya. Lalu godaan terjerumus ke dunia gelap tak bisa ditolak. Sejak remaja ia sudah jadi pemabuk dan pecandu narkoba.

Pada usia 19 tahun, Bob menikah dan usia 20 tahun bercerai. Ia memiliki anak. Ketika ingin menengok anaknya, mantan istrinya malah melaporkannya ke polisi yang membuatnya dipenjara. Kehidupannya makin buruk karena sekeluar dari penjara, ia kembali ke kebiasaan semula. Bahkan ia beberapa kali overdosis yang hampir merengut nyawanya.

Namun kehidupan buruk itu sering disesalinya. Ia merasa, jika terus-terusan seperti itu masa depannya akan hancur. Maka, pada saat usianya 24 tahun, ia pergi ke Atlanta untuk menata hidup baru. Sayangnya ia tak mudah mendapatkan pekerjaan.Bahkan ia sudah putus asa. "Saya bisa saja bunuh diri," ujarnya.

Akhirnya ia mencoba menahan diri untuk tak jadi pecandu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mendapatkan pekerjaan sebagai pembersih batu bata bekas yang akan dijual lagi oleh pemilik usaha itu. Upahnya US$ 15 sehari; cukup untuk menyewa tempat tinggal dan bisa makan. Ia kemudian bahkan bisa menabung.

Suatu kali, ia bisa membeli mobil. Namun baru beberapa hari mengendarainya ia mengalami kecelakaan hebat yang hampir membuatnya tewas. Ia dirawat untuk beberapa waktu. Selama dirawat ia rajin membaca kitab suci. Dari sana, pelan-pelan semangat hidupnya tumbuh. Apalagi ia kemudian bertemu dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya, yang membuatnya makin terdorong untuk memperbaiki hidupnya.

Sekeluar dari rumah sakit, ia diterima di perusahaan cat Glidden sebagai tukang tempel label pada kaleng cat dan bekerja sehari penuh di basement yang mirip goa. Meski begitu ia menerimanya dengan sabar. Tekadnya untuk memperbaiki nasib sudah bulat. Sambil bekerja, dengan tekun ia juga banyak belajar dari ahli cat di perusahaan itu. Sikapnya yang baik membuat prestasi kerjanya juga baik dan beberapa kali mendapatkan promosi. "Dalam waktu dua tahun (di Glidden) saya mendapatkan promosi sebanyak delapan kali," ujarnya.

Setelah dua tahun di Glidden, ia pindah ke dua perusahaan cat lain. Lalu ia menemukan sesuatu, bahwa para artis wildlife (pelukis yang menggambar kehidupan alam liar, hobi yang juga ia tekuni) umumnya menggunakan cat mobil untuk mendapatkan hasil lukisan yang sempurna. Tetapi itu tentu saja mahal. Bob kemudian terpikirkan untuk membuat cat lukis baru bagi mereka yaitu jenis airbrush. Karena itu, selama dua tahun, ia berkutat di rumahnya untuk membuat ramuan catnya. Tak lama, catnya jadi. Untuk memperkenalkannya ia ikut pameran dengan menyewa stan/booth sendiri. Ia juga beri nama perusahaannya sebagai Polytranspar. Ternyata banyak pelukis yang ingin membeli catnya. Selanjutnya, ia keliling Amerika untuk menawarkan cat produksinya ke berbagai pelukis. Lalu, ia berhenti dari tempatnya bekerja agar bisa konsentrasi mengembangkan bisnis sendiri.
 

Pada tahun 1977, Bob mendirikan perusahaan cat Master Paint System. Sejak itulah bisnisnya menggelinding, makin lama makin besar dan makin banyak.Karena bisnisnya makin banyak, Bob mulai kebingungan mengelolanya. Pada awal 1980-an, ia mencoba membuat sistem pengelolaan bisnisnya mulai dari pengelolaan gudang, inventori barang, supply chain management dan sebagainya.

Bob ternyata jeli. Setelah para programernya membuat software manajemen untuk usahanya, ia juga menawarkan jasa pembuatan software sejenis pada banyak perusahaan. Dari sinilah ia mengembangkan bisnis software-nya. Meski sempat hampir bangkrut, Bob berhasil mengembangkan Horizon Software menjadi salah satu perusahaan software besar di Amerika sengan spesialisasi software pengelolaan kafetaria sekolah, barak-barak militer, rumah sakit, perguruan tinggi, dan sebagainya. Saat didirikan tahun 1992, Horizon baru mempekerjakanempat orang programmer. Sekarang perusahaan ini sudah memiliki hampir 180 karyawan. Omsetnya mencapai US$ 30 juta setahun atau sekitar Rp 270 miliar!
 
Jika dulu menuruti rasa putus asa ketika menghadapi kesulitan, mungkin Bob Williamson malah sudah tiada karena bunuh diri. Tetapi ia memilih bangkit dan bisa meraih kesuksesan besar! Luar Biasa!!

Minggu, 20 Maret 2011

Fokus dan Inovatif ala Michael Dell

Ketika karier atau bisnis sudah mencapai puncak, harta berlimpah, dan reputasi sudah didapat, ke mana lagi tujuan hidup diarahkan? Ada contoh menarik dalam melakukan ini yaitu kehidupan pasangan pengusaha sukses Michael Dell & Susan Dell. Beberapa waktu lalu, pasangan pengusaha komputer ini menyisihkan dananya sebesar US$ 1 miliar (sekitar Rp 9 triliun) untuk kegiatan sosial mereka. Dana ini tak dikeluarkan sekaligus, tetapi itu angka yang sangat besar.
Melalui yayasan Michael & Susan Dell Foundation, mereka fokus menolong anak-anak yang tidak beruntung karena kurang sarana pendidikan dan standar hidup kesehatannya yang rendah di berbagai kota di dunia. Sasarannya adalah menolong mereka yang tak berpendidikan hingga menjadi anak yang berpendidikan, sehat, dan sukses.

Yayasan ini didirikan tahun 1999 dan kini sudah melakukan berbagai kegiatan mulai dari beberapa kota di Amerika Serikat, India, dan Afrika Selatan. "Kami kira pendidikan dan kesehatan merupakan masalah penting. Anak-anak harus sehat agar bisa belajar dan akan-anak yang tak bisa belajar tak mungkin bisa sukses," ujar Dell mengenai fokusnya itu.

Mungkin pendirian yayasan merupakan "tugas tambahan" Dell dalam hidupnya sebagai pengusaha. Namun tanpa kepedulian yang terus dikembangkan kepedulian itu tak akan tumbuh. Dan ternyata itu terbangun dari sikap hidupnya sebagai pengusaha yang sekaligus menjadi kunci sukses hidupnya. Apa saja yang dilakukannya? Berikut poin pentingnya yang bisa sama-sama kita serap.


Kembangkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Belia

Jiwa kewirausahaan Dell sudah terlihat sejak usia belasan tahun.Ia memulai bisnisnya dengan mengumpulkan perangko dan menjualnya kepada sejumlah kolektor. Saat itu ia bisa meraih pendapatan sampai US$ 2.000. Lumayan untuk pemula. Namun ia tak puas dengan jumlah sebanyak itu. Untuk meningkatkan omsetnya ia berjualan koran.

Berbeda dengan penjual koran lainnya, ia punya cara cerdas mengumpulkan pelanggan. Dell meriset daftar pasangan yang baru nikah dan mengumpulkan daftar pemilik rumah baru yang ia peroleh dari daftar hipotek bank untuk memudahkan pencariannya.

Pada usia 18 tahun, ia bahkan sudah punya mimpi besar. Saat itu ia sudah tertarik pada bisnis PC, lalu ayahnya bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan dalam hidupmu?" Dell lalu menyahut, "Saya akan berkompetisi dengan IBM?" ujarnya. Mimpinya begitu jelas dan fokus!

Ayahnya kurang senang dengan jawaban itu. Terlebih-lebih Dell kemudian memutuskan keluar dari University of Texas untuk berjualan PC. Lagi-lagi ia lakukan sesuatu yang brilian. Dibanding menawarkan PC baru ia memilih layanan upgrade komputer. Dan ternyata ini pasar yang basah. Terlebih-lebih ia menemukan bahwa menjual PC secara langsung jauh lebih efektif dibanding berjualan komputer secara tradisional (mengandalkan toko).

Dan melalui perusahaannya saat itu [PC's Limited], ia bisa membuktikan penglihatannya mengenai celah pasar itu memang benar. Pada tahun 1984 dalam aktu beberapa bulan saja ia bisa membukukan omset US$ 50.000-80.000 dari bisnis upgrade komputer dan menjual komponen-komponennya. Tahun 1991, ketika usianya baru 27 tahun, ia sudah menjadi CEO Termuda pilihan Majalah Fortune.

Tahun 1996, Dell mulai menjual PC-nya melalui internet. Dan respon pasar luar biasa! Omset Dell mencapai US$ 1 juta per hari. Dan setelah perkembangan berikutnya, Dell menjadi penguasa bisnis komputer dengan merk "Dell". Tahun 2001, Dell sudah menguasai pasar PC dunia dengan pangsa pasar 12,8% yang membuatnya menjadi pembuat PC terbesar di dunia. Sudah tentu, ia sukses mengalahkan IBM dalam hal penjualan jumlah PC-nya di dunia.

Kunci suksesnya adalah fokus dan selalu mencari cara baru (inovatif) untuk menaklukkan pasar.Dengan sikap seperti itu, Dell sudah berani menantang pasar sejak usia muda. "Fokus itu penting. Tetapi sabar juga perlu karena untuk mengukur segala perkembangan yang telah dicapai kita semua perlu waktu," ujarnya.

Sikap Mental yang Patut Dicontoh

Dunia berdecak kagum dengan mentalitas masyarakat Jepang. Setelah terjadi bencana gempa dan tsunami yang mematikan, mereka tetap mengantre dengan tertib di supermarket untuk mendapatkan bahan makanan. Tidak ada rebutan, tidak ada penjarahan, tidak ada kerusuhan!

Ketertiban, tidak hanya terlihat di supermarket saja. Ketika gempa berkekuatan 9 SR baru saja terjadi (Jumat sore, 11/3), lalu lintas macet total. Namun, penduduk Jepang tetap bersikap tenang menghadapinya.

"Lalu lintas bagai di neraka dan sering kali hanya satu mobil dapat berjalan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Tapi semua begitu tenang, mengemudi dengan aman, dan memberikan jalan kepada satu sama lain," ucap salah salah satu pengendara, Arakawa.
 
Antrean tertib warga Jepang di sebuah supermarket di daerah Sendai, Kamis (17/3)

Arakawa mengucapkan hal itu melalui akun Twitter, yang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang translator bernama Aya Watanabe (@vida_es_bella). Watanabe menghimpun beberapa tweet para korban gempa yang menunjukkan ketertiban dan rasa kesetiakawanan warga Jepang.

Masih di jalan raya, seorang pengguna jalan lain mengatakan, ia mengemudi selama 10 jam untuk pulang ke rumah saat gempa menghentak. Lalu lintas sangat padat. Namun, ia tidak mendengar bunyi klakson sekali pun.

"Yang terdengar hanyalah ucapan terima kasih antara satu sama lain, karena telah diberi jalan," katanya.

Sikap tetap tertib dan tidak emosional juga terlihat di stasiun-staiun kereta api. Seperti diberitakan, ketiga gempa terjadi, jaringan KA Tokyo Metro sempat menghentikan operasinya dengan alasan keselamatan penumpang. Banyak penumpang yang terlantar di stasiun. Namun, mereka tetap menunggu dengan sabar sampai KA dapat beroperasi kembali. Para penumpang juga senang dengan cara petugas KA yang tetap melayani mereka dengan senyuman.

Seorang warga Jepang yang ingin menempuh perjalanan dari Oedo menuju Hikari Gaoka mengatakan, stasiun sangat penuh dengan penumpang. Sampai-sampai ada penumpang yang menunggu di luar gerbang tiket. Akan tetapi, semua tertib dan mengikuti arahan petugas stasiun.

"Kami membentuk garis sempurna. Tidak ada tali partisi. Tapi kami memberikan ruang untuk orang lain berjalan. Semua orang mengikuti petunjuk yang diberikan oleh staf stasiun. Ketenangan ini sangat mutlak dan nyata. Saya kagum dengan kekuatan mental orang-orang ini," katanya.

Nilai Buddha dan Shinto


John Nelson, seorang pakar kawasan Asia dari University of San Francisco, AS, menjelaskan fenomena tersebut. Ia mengatakan, orang Jepang tidak akan meratapi yang sudah terjadi. "Mereka malah bertanya, apakah yang perlu dilakukan selanjutnya," tuturnya.

Nelson melanjutkan, masyarakat Jepang (khususnya dalam kasus-kasus) tertentu, memegang nilai-nilai tradisional. "Ada ucapan terkenal di Jepang bahwa orang-orang akan kembali ke dewa-dewa jika sedang dalam kesulitan. Dan saya kira itu yang kita lihat sekarang ini," lanjut Nelson. Ia menambahkan, acara-acara ritual Shinto dan Buddha memengaruhi kehidupan Jepang.

Duncan Williams, seorang biksu, juga memberi penjelasan. Pengaruh Buddha menjadi faktor utama di balik kesabaran, daya tahan, serta pengorbanan dalam sebuah tragedi.

Pernyataan-pernyataan di atas juga didukung oleh Ian Reader, profesor ahli Jepang dari University of Manchester (Inggris), serta Brian Bocking, pakar budaya Asia dari University College Cork (Irlandia).
 
Source: detiknews, kompas.com

Selasa, 15 Maret 2011

Embun Pagi

Adalah Raja Zhao yang memerintah sebuah kerajaan di abad ketiga, mengirim putranya pangeran Chao Chan yang telah beranjak dewasa ke sebuah kuil dimana seorang guru besar Pan Ku berada.  Chao Chan akan dididik menjadi seorang pemimpin agar kelak siap  menggantikan ayahnya sebagai raja.

Sehari setelah tiba di kuil, Chao Chan merasa aneh karena Pan Ku justru mengajak Chao Chan masuk kedalam hutan lalu meninggalkannya seorang diri di sebuah rumah yang telah disediakan baginya ditengah hutan itu.  "Tinggallah disini dan  belajarlah pada alam, satu bulan lagi aku akan datang menjemputmu" demikian kata Pan Ku.

Satu bulan kemudian Pan Ku datang menjenguk sang pangeran di dalam hutan dan bertanya: "Katakanlah, selama sebulan di hutan ini suara apa saja yang sudah kau dengar?"

"Guru," jawab pangeran, "Saya telah mendengar suara kokok ayam hutan, jangkrik mengerik, lebah mendengung, burung berkicau, serigala melolong...." dan masih banyak suara-suara lainnya yang disebutkan oleh Chao Chan.

Usai pangeran Chao Chan menjelaskan pengalamannya, guru Pan Ku memerintahkannya untuk tinggal selama tiga hari lagi untuk memperhatikan suara apa lagi yang bisa didengar selain yang telah disebutkannya.  Untuk kesekiankalinya Chao Chan tidak habis mengerti dengan perintah sang guru, bukankah ia telah menyebutkan banyak suara yang didengarkannya?

Chao Chan termenung setiap hari namun tetap berpikir keras ingin menemukan suara yang dimaksud oleh Pan Ku, tetapi tetap saja tidak menemukan suara lain dari yang selama ini sudah didengarnya.

Pada hari ketiga menjelang matahari terbit, Chao Chan bangun dari tidurnya kemudian duduk bersila di rerumputan dan mulailah bermeditasi.  Dalam kesunyian itulah sayup-sayup Chao Chan mendengar suara yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya.

Semakin lama suara itu semakin jelas, dan saat itulah Chao Chan mengalami pencerahan. "Pasti inilah suara-suara yang dimaksud guru." teriaknya dalam hati.

Akhirnya tanpa menunggu Pan Ku datang mengunjunginya, sang pangeran bergegas kembali ke kuil untuk melaporkan temuannya.

"Guru", ujarnya "Ketika saya membuka telinga dan hati saya lebar-lebar, saya dapat mendengar hal-hal yang tak terdengar seperti suara bunga merekah, suara matahari yang memanaskan bumi dan suara rumput minum embun pagi."

Pan Ku tersenyum lega seraya manggut-manggut mengiyakan, lalu katanya: "Mampu mendengarkan suara yang tak terdengar adalah pelajaran wajib yang paling penting bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin yang baik."

"Karena, baru setelah seseorang mampu mendengar suara hati pengikutnya, mendengar perasaan yang tidak ter-ekspresikan, kesakitan yang tak terungkapkan, keluhan yang tidak diucapkan, maka barulah seorang pemimpin akan paham betul apa yang salah dan niscaya akan mampu memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dari para pengikutnya".

Keajaiban di Tengah Bencana

Gempa bumi yang disusul tsunami dahsyat yang melanda Jepang sudah berlangsung beberapa hari. Sekitar dua ribuan orang diberitakan meninggal. Masih ada ribuan orang yang belum diketahui nasibnya. Banyak yang mengira, karena waktu yang cukup lama sejak tragedi terjadi, hanya sedikit harapan mereka yang belum ditemukan akan terselamatkan jiwanya. Bahkan ada yang menyebutkan, jika jumlah korban jiwa kurang dari 10.000, itu adalah suatu keajaiban. Artinya, korban jiwa diperkirakan akan lebih besar dari 10.000 orang.
Namun selalu ada keajaiban dan tentu saja harapan. Ada sejumlah korban yang dengan segala upayanya bisa bertahan hidup dari ancaman kematian setelah terbawa arus tsunami yang melanda Jepang 11 Maret lalu.

Terapung 2 Hari


Hiromitsu Shinkawa, 60 tahun, bisa disebut mengalami keajaiban itu. Pada Jumat 11 Maret 2011, pasca gempa terjadi, ia bermaksud kembali ke rumahnya menemui istrinya. Namun baru tiba di rumah tiba-tiba suara gemuruh dari pantai menghampirinya. Saat itulah ia melihat gelombang tsunami mendekatinya. Ia dan istrinya lari sekencang-kencangnya.

Entah kenapa, tiba-tiba sang kakek itu ingat sesuatu dan kembali ke rumah untuk mengambilnya. Pada saat itulah tsunami menghantam rumahnya hingga hancur. Ia hampir tenggelam terbawa arus namun berhasil meraih bagian atap rumahnya yang terbawa tsunami. Ia berhasil bertahan di atasnya mengikuti arus tsunami. Sedangkan istrinya entah tersapu ke mana.
 
 

Hiromitsu kemudian terbawa arus tsunami yang kembali ke laut dan terombang-ambing di tengah lautan. Beberapa kali ia melihat kapal dan helikopter tim penyelamat. Ia sudah berusaha melambai-lambaikan baju merahnya minta tolong namun tim penyelamat itu tak juga melihatnya.

Meski begitu ia tak putus harapan. Besoknya ketika ada kapal lagi ia kembali melambai-lambaikan baju merahnya. Kapal militer itu akhirnya menyelamatkannya setelah ia terapung di laut selama dua hari di atas bagian atap rumahnya yang mengapung.

Bayi selamat setelah 3 hari

Keajaiban lain terjadi kemarin. Tim penyelamat dari satuan militer Jepang menemukan bayi berusia empat bulan dari reruntuhan di Ishinomaki. Tim ini menyusuri desa itu yang hancur berantakan. Mereka sudah mengira korban yang bisa mereka temukan sudah pasti meninggal.

Namun sayup-sayup terdengar tangisan anak kecil yang entah di mana. Kadang terdengar kadang hilang. Setelah berusaha mencarinya, akhirnya tim itu menemukan bayi di bawah reruntuhan berselimut warna pink. Bayi itu bisa bertahan hidup tiga hari setelah kejadian.
 

Setelah diberitakan di media massa, seorang lelaki yang mengaku sebagai ayahnya membawa sang bayi. Ia menyebutkan anaknya terlepas ketika tsunami menerjang rumahnya tiga hari sebelumnya.

Terikat di mobil 20 jam


Ada juga cerita nenek tua yang ditemukan di dalam mobil yang hancur di antara puing-puing gedung. Ia masih terikat di dalam kursi penumpang di mobil itu saat ditemukan. Meski mengaku trauma, namun sang nenek tak terluka.

Penemuan-penemuan itu membangkitkan harapan bahwa masih ada keajaiban lain yang membuat korban lain bisa bertahan hidup dari hempasan tsunami. Luar biasa!

Minggu, 13 Maret 2011

10 Aturan Hidup Bahagia dari Thomas Jefferson

Thomas Jefferson, presiden ke-3 Amerika Serikat (masa jabatan 1801-1809), pernah menyebutkan 10 aturan yang ia anggap bisa membuat hidup Anda bahagia. Aturan ini sebenarnya ditulis Jefferson atas permintaan orangtua seorang bayi yang baru lahir dan diberi nama Thomas Jefferson Smith.

Apakah Anda ingin mencobanya? Berikut nasihat Thomas Jefferson yang legendaris itu:

1.Jangan pernah menunda sampai besok untuk hal yang bisa Anda lakukan sekarang.

Sepertinya ungkapan ini cukup populer bagi kita, karena kalimat bijak ini biasanya bisa kita lihat di bagian bawah buku tulis yang kita gunakan saat sekolah :) Jadi, intinya sikap menunda itu tidak baik. Lakukan sekarang, karena belum tentu besok Anda bisa melakukan apa yang saat ini Anda tunda.

2.Jangan pernah merepotkan orang lain untuk hal-hal yang bisa Anda lakukan sendiri.

Kalau Anda bisa makan sendiri, jangan minta disuapi. Kalau Anda bisa mencari uang sendiri, jangan meminta uang dari orang lain!

3.Jangan pernah membelanjakan uang sebelum Anda memilikinya.

Lho…bagaimana bisa belanja kalau uangnya tidak ada? Ya, artinya jangan berhutang untuk hal-hal konsumtif. Kalau Anda memang belum punya uang, jangan berharap untuk membeli yang macam-macam, sehingga nantinya Anda justru terjerat hutang.

Karena itulah, Anda perlu memiliki pengetahuan finansial, sehingga Anda tahu bagaimana mengatur uang, dan bagaimana seharusnya memperlakukan harta yang Anda miliki.

4. Jangan pernah membeli hal-hal yang tidak Anda sukai hanya karena harganya murah; karena Anda tak akan merasa hal tersebut berharga.

Kalau Anda berbelanja, sebaiknya jangan selalu melihat sesuatu dari harganya yang murah. Misalnya, kalau Anda membeli sepatu hanya karena harganya murah, bersiap-siaplah untuk menyesal, karena sepatu Anda sebentar lagi tak akan bisa dipakai. Lebih baik membeli barang yang sedikit mahal, namun kualitasnya sebanding. Dengan membeli barang yang lebih mahal dan berkualitas baik, maka Anda juga akan lebih menghargainya.

5.Kesombongan lebih merugikan daripada kelaparan, kehausan, dan kedinginan.

Orang kaya yang suka menyombongkan pangkat dan hartanya adalah tidak lebih baik dari orang miskin yang selalu hidup kelaparan, kehausan, dan kedinginan.

6.Jangan pernah menyesal karena Anda makan terlalu sedikit.

Bersyukurlah. Meski hanya sedikit, Anda masih bisa makan. Anda masih lebih baik dari orang-orang yang tak bisa makan sama sekali karena kemiskinan, penindasan, atau bencana alam.

7.Tak ada hal yang merepotkan jika kita melakukannya dengan senang hati.

Menurut Paul Zane Pilzer, salah satu tanda bahwa bisnis Anda sudah tepat adalah jika Anda tidak merasa repot atau susah ketika menjalankan bisnis Anda. Bahkan ketika Anda sedang menonton tv bersama keluarga, Anda sesekali masih memikirkan bisnis Anda, karena Anda sangat menyukai dan menikmati apa yang Anda kerjakan.

Lakukan pekerjaan Anda dengan senang hati, maka Anda tak akan merasa bahwa Anda sedang “bekerja”. Saya tahu kalau saya merasakannya. Bagaimana dengan Anda?

8.Jangan biarkan Anda merasa tersakiti untuk hal-hal yang tak pernah terjadi.

Banyak orang mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, dan pada akhirnya bahkan tidak pernah terjadi sama sekali. Ini hanya akan membuat Anda "sakit" karena suatu hal yang tidak jelas. Jika Anda memiliki masalah kekhawatiran, saya menyarankan Anda membaca buku Dale Carnegie, How to Stop Worrying and Start Living.

9.Jangan menangani hal dengan perdebatan.

Kalimat ini dalam bahasa Inggrisnya berbunyi “take things always by their smooth handle”, dan sebenarnya bisa diartikan apapun oleh pembacanya. Namun, arti yang banyak diterima adalah bahwa sebaiknya jangan menangani hal dengan perdebatan. Sebab, perdebatan menyangkut opini, dan siapapun bisa memiliki opini.

Argumen dan debat memang masih perlu, tapi jangan sampai hanya membuat keadaan menjadi semakin buruk, bukannya semakin baik.

10.Ketika marah, berhitunglah sampai 10 sebelum Anda berbicara; dan jika Anda sangat marah, berhitunglah sampai 100.

Ada satu kalimat bijak yang mengatakan bahwa kemarahan adalah bila kata-kata atau tindakan keluar lebih dahulu daripada logika. Saya rasa itu benar.

Berteman dengan Gorila via Facebook dan Twitter

Gorila gunung Uganda adalah salah satu spesies hewan yang langka. Saat ini, jumlahnya hanya sekitar 720 ekor saja. Hmmm... apakah Anda ingin "berteman" dengannya? Mudah saja kok. Tidak usah pergi jauh-jauh ke Uganda, karena mereka telah memiliki ID di Facebook dan Twitter! Melalui situs pertemanan itu, Anda bisa mengikuti kehidupan personal para gorila tersebut melalui foto, video dan status yang up-to-date. Hal ini diungkapkan oleh situs Friendagorilla.org, yang diluncurkan pada hari Sabtu (26/9). Situs ini dan orang-orang yang terlibat dalam pengelolaannya, merupakan penggalang kampanye perlindungan gorila gunung Uganda. Mereka membuat dan menayangkan ID Facebook dan Twitter beberapa ekor gorila, agar gorila bisa dikenal masyarakat dunia dan dibantu usaha pelestariannya. Mereka juga mengumpulkan dana untuk membiayai berbagai proyek perlindungan gorila.
"Semua orang bisa berpartisipasi dalam pelestarian gorila gunung Uganda dengan menyumbang 1 dollar AS (sekitar Rp10.000) kepada Friendagorilla.org," ungkap Moses Mapesa Wafula, Kepala Otoritas Alam Liar Uganda (UWA). "Kami berharap bisa mendapatkan 100.000 dollar AS dalam tiga bulan pertama, dan 350.000 dollar AS dalam waktu satu tahun lagi!"
Oh ya, situs itu juga mengungkapkan, inilah kampanye perlindungan gorila pertama yang melibatkan situs-situs jaringan sosial. Luar biasa!

Sabtu, 12 Maret 2011

Yoshikazu Tanaka, Mark Zuckerberg-nya Asia

Namanya Yoshikazu Tanaka, usianya baru 33 tahun. Namun kekayaannya mencapai US$ 1,4 miliar (sekitar Rp 12,6 triliun). Pada bulan Maret ini namanya tercantum dalam Top 10 New Billionaires in Asia 2011.
Sebenarnya pemuda kelahiran Tokyo, Jepang ini bukan pertama kali masuk daftar orang kaya versi majalah Forbes. Sebelumnya ia juga terdaftar di urutan kedua World's Second-Youngest Self-Made Billionaire di belakang pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Daftar ini menunjukkan kalau Tanaka (dan juga Mark Zuckerberg) mendapatkan kekayaannya bukan dari warisan orangtuanya melainkan hasil usaha sendiri.

Tanaka boleh dibilang "Mark Zuckerberg" versi Asia. Seperti juga Mark, ia juga sukses menjadi pebisnis karena mengembangkan website jejaring sosial bernama Gree.
 

Awal kariernya dimulai saat ia bekerja di Sony Communication Network Corporation selepas menyelesaikan sekolahnya di Fakultas Hukum Nihon University tahun 1999. Tahun 2002, ia pindah ke Rakuten. Inc, sebuah website belajar online. Dari sinilah ia belajar bisnis internet.

Tahun 2004 ia memutuskan keluar dari Rakuten untuk mendirikan Gree (http://www.gree.co.jp), sebuah website jejaring sosial. Meski sama-sama website jejaring sosial, Gree berbeda konsep dengan Facebook atau website jejaring sosial di Jepang lainnya. Gree lebih menekankan pada jejaring permainan sosial. "Itu karena orang Jepang suka memainkan games," kata Tanaka.

Ini menunjukkan ia cukup jeli membidik pasar. Hal inilah yang membuat Gree langsung diserbu. Tak perlu sampai sebulan sudah mendapatkan sejuta member. Tak hanya itu, para member itu juga mau membayar pakaian virtual - satu fasilitas di website itu - untuk berpartisipasi di jejaring buatannya. Dari sinilah, antara lain, pendapatannya ia kumpulkan.

Tahun 2006 Gree "go public" dengan menawarkan 51% sahamnya ke pasar modal. Tahun 2009, harga sahamnya melonjak beberapa kali lipat. Dari 51% saham milik publik yang pada tahun 2008 nilainya hanya US$ 170 juta, setahun kemudian nilainya sudah mencapai US$ 1,6 miliar.

Dengan prestasi perusahaan itulah Forbes menobatkan Tanaka menjadi anak muda terkaya Asia tahun 2010 dan 2011.

Luar biasa!

Selasa, 01 Maret 2011

Aku Tidak Menyerah

Kala itu Takezo adalah seorang pria yang putus asa dan mau meninggalkan semuanya: baik pekerjaan maupun hubungan dengan kerabat dan sahabatnya. Ia mau berhenti hidup!
Lalu, ia pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan seorang Zen bernama Takuan. Katanya, "Apakah Takuan bisa memberiku satu alasan yang baik agar jangan berhenti hidup dan menyerah?"

Jawaban Takuan sangat mengejutkan, "Coba lihat sekitarmu, Takezo. Apakah kamu lihat pohon pakis dan bambu itu?"

"Ya," jawab Takezo. "Aku melihatnya."

"Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, alam merawat keduanya dengan sangat baik. Alam memberi keduanya cahaya dan air. Pakis tumbuh sangat cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan.

Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apa pun, tapi katanya, 'Aku tidak menyerah.'

Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin segar dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi katanya, 'Aku tidak menyerah!'

Pada tahun ketiga, bambu belum juga memunculkan sesuatu, tapi katanya, 'Aku tidak menyerah!'

Di tahun keempat, masih belum ada apapun dari benih bambu. Ia berkata, 'Aku tidak menyerah!'" demikian cerita Takuan.

Pada tahun ke-5, muncul tunas yang lebih kecil dari tunas pakis. Yah, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.

Tapi 6 bulan kemudian, bambu tumbuh menjulang sampai 100 kaki (sekitar 30 meter). Rupanya, untuk menumbuhkan akar secara maksimal, perlu waktu 5 tahun. Akar ini membuat bambu kuat dan bisa memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.
 
 
"Sang Pencipta tak kan memberi kita cobaan yang tak sanggup diatasi oleh ciptaan-Nya," kata Takuan kepada Takezo. "Tahukah kamu, Takezo. Saat menghadapi kesulitan dan perjuangan berat seperti ini, kau sebenarnya sedang menumbuhkan 'akar-akar' yang kuat? Alam tidak meninggalkan bambu itu. Sang Pencipta juga tidak meninggalkan kamu."
 
"Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain," kata Takuan. "Bambu punya tujuan yang berbeda, dibandingkan dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah. Waktu untuk Anda akan datang. Anda akan menanjak dan menjulang tinggi, asalkan tetap mengandalkan Sang Pencipta dalam setiap rencana dan jalan hidup Anda."
 
Demikian sepenggal percakapan Shinmen Takezo, sebelum menjadi Miyamoto Musashi (seorang samurai dan ronin yang sangat terkenal di Jepang pada Abad Pertengahan).

Catherine Elizabeth: Anak Buangan yang Jadi Pengusaha Panutan di AS


Bagaimana seorang remaja putri Afro-Amerika, single parent, tak tamat SMA, dan diusir orangtua dari rumah, merancang masa depannya? Catherine Elizabeth, yang mengalami nasib seperti itu, mengaku seperti menatap masa depan yang "mengerikan". Saat itu ia nyaris tak punya tiket untuk menempuh jalur menuju kehidupan yang lebih baik.
Catherine Elizabeth adalah perempuan keturunan Afrika dari kedua orang tua yang cukup terpandang. Ia bisa sekolah di sekolah elit. Saat itu ia juga punya ketertarikan khusus pada siaran radio. Tak heran jika setiap hari selalu membawa radio ke sekolah. Bahkan tak hanya jadi pendengar ia juga ikut mencarikan iklan bagi radio kesukaannya di Omaha.

Namun sesuatu terjadi padanya yang membuat kedua orang tuanya berang. Entah bagaimana ceritanya, Catherine mengandung ketika usianya baru menginjak 16 tahun. Ia pun diusir dari rumah. Untungnya ia bisa menikah dengan ayah anak yang dikandungnya. Namun itu pun cuma dua tahun, lalu mereka bercerai.

Dari situlah ia mulai menghadapi kengerian. Bagaimana harus menghadapi masa depan? Satu-satunya peluang yang ada dalam pikirannya adalah ia harus menamatkan dulu SMA-nya yang dulu terbengkalai karena harus menikah.

Tak berpikir panjang, ia datangisekolahnya dan memintanya agar ia bisa melanjutkan sekolah. Beruntung sekolahnya mau menerima. Akhirnya ia bisa menyelesaikan sekolah sambil membesarkan anaknya dengan sumber penghidupan dari kerja serabutan.

Ia menyadari pendidikan itu penting sehingga ia mati-matian menjalaninya. Setamat SMA, ia menjutkan ke college dan diterima di University of Nebraska, Omaha, tahun 1968.Sambil kuliah ia bekerja di stasiun radio khusus untuk pendengar keturunan Afrika, bernama KOWH.

Kuliah sambil bekerja membuatnya harus pintar-pintar mengatur waktu.Di situlah integritasnya diuji. Ia tak hanya harus bekerja keras, juga harus bekerja cerdas. Ia berhasil. Pekerjaannya beres, kuliahnya tetap jalan. Bahkan apapun pekerjaan yang diberikan oleh KOWH, selalu bisa diselesaikannya dengan memuaskan. Hal inilah yang membuat pendiri Howard University's School of Communication, Washington, kesengsem. Lalu, ia ditawari menjadi pengajar.

Tawaran itu diterima Catherine. Sayangnya, karena mengejar karier, kuliahnya jadi terbengkalai. Ia gagal menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan kariernya terus menanjak. Ia bahkan diangkat menjadi sales director radio kampus WHUR-FM sampai kemudian menjadi presiden direktur. Radionya pun makin populer.

Salah satu program unggulannya adalah The Quiet Storm, program radio tengah malam yang menyajikan lagu-lagu romantis beraliran rhythm and blues. Program radio ini melejit, sampai-sampai ditiru oleh radio-radio lainnya. Omset radio melonjak dari hanya US$ 300.000 menjadi US$ 3,5juta. Saat itu, jiwa bisnisnya terusik. Ia meminta manajemen WHUR agar mematenkan program itu dan menjual lisensi The Quiet Storm. Namun ide itu ditolak karena dianggap kurang komersil.

Gara-gara itu, Catherine kemudian pindah ke WYCB-AM. Namun enam bulan kemudian ia berhenti karena merasa kreativitasnya tertekan. Dari sanalah ia terpikirkan untuk memiliki radio sendiri. Saat itu ia sudah menikah lagi dengan seorang produser televisi bernama Dewey Hughes.

Kebetulan ada radio kecil, WOL-AM, yang mau dijual. Setelah mencari investor, terkumpul uang US$ 450.000. Uang itu jelas tak cukup untuk membeli WOL yang ditawarkan dengan harga US$ 950.000. Lalu mereka mencari pinjaman bank. Tak satupun bank mengabulkan kreditnya. Sebanyak 32 bank yang menolak permohonan kreditnya. Baru bank ke-33 mau menerimanya. Itu pun karena petugas loan officer-nya masih baru. Dari pinjaman bank inilah, mereka bisa membeli WOL-AM.
 

Dalam perkembangannya, WOL-AM berubah nama menjadi Radio One yang kemudian jadi cikal sukses bisnis Catherine. Kini Catherine memiliki 70-an radio di bawah manajemen Radio One. Bahkan ia sudah punya stasiun TV juga. Dengan jumlah radio sebanyak itu Catherine menjadi "pengusaha radio terbesar ketujuh di AS" dan menjadi "pengusaha keturunan Afrika pertama yang memiliki jaringan radio terbesar di Amerika Serikat". Bahkan ia menjadi wanita pengusaha kulit hitam pertama yang perusahaannya tercatatkan di pasar modal.

Semua itu, katanya, terbangun dari mimpi dan ketakutan akan masa depan yang suram yang membayang di hadapannya. Menurutnya, sukses yang dicapainya karena ia punya visi yang merupakan kombinasi antara imajinasi dan persiapan. Ketika imajinasinya menjelma menjadi mimpi, ia siapkan caranya agar mimpi itu menjadi kenyataan.

Semoga menginspirasi!

Pengikut