Laman

Sabtu, 02 April 2011

Belajar Bijak dari Legenda Pelatih Olahraga Dunia

Atlet terbaik lahir dari tangan pelatih terbaik. Namun sering kali nama besar pelatih tertutupi oleh kecemerlangan atlet yang dilatihnya. Tak jarang pula orang tak mempedulikan siapa pelatihnya karena ada anggapan bakat sang atlet itulah yang membuatnya besar. Sedangkan pelatih hanya sebatas memberi arahan.
Namun orang sulit mengesampingkan John Robert Wooden, pelatih legendaris bola basket Amerika Serikat (AS). Pelatih yang telah mengantarkan University of California Los Angeles (UCLA) juara bola basket tingkat nasional AS sebanyak 10 kali (tujuh kali di antaranya berturut-turut) ini merupakan pelatih yang tiada tandingnya. Ia tak hanya menjadi pelatih terbaik di cabang bola basket, Wooden juga menjadi pelatih legendaris olahraga yang patut diteladani prinsip-prinsipnya oleh semua pihak. Dengan konsep kepelatihannya, filosofi kepelatihannya, dan prestasi tim-tim yang dicapainya, lelaki kelahiran Indiana, 14 Oktober 1910 (meninggal 4 Juni 2010), tak heran jika ia dinobatkan menjadi pelatih terbaik AS sebanyak enam kali.
 

Dalam hal prestasi, ia pernah membawa timnya empat musim tidak pernah terkalahkan yang merupakan rekor tersendiri. Ia juga membukukan rekor kepelatihan di mana selama 88 kali bertanding tak pernah kalah. Belum ada di dalam sejarah bolabasket AS prestasi seperti itu bisa ditorehkan kecuali oleh tim di bawah asuhannya.

Pencinta bola basket

Sewaktu masih kecil ia memiliki idola pemain bola basket bernama Fuzzy Vandivier dari Franklin Wonder Five yang menjadi pemain legendaris tingkat SMA di Indiana dari tahun 1919-1922. Ternyata mengidolakan pemain itu mendorongnya untuk menjadi pemain hebat di tingkat sekolahnya. Tak perlu lama, dengan antusias berlatih pada tahun 1924 ia berhasil membawa tim sekolahnya maju ke babak final kejuaraan nasional berturut-turut. Dan pada tahun 1927 ia sukses membawa sekolahnya menjadi juara nasional.

Atas prestasi itu Wooden bahkan menjadi pemain bola basket nasional untuk tingkat SMA. Ketika masuk ke Purdue University, Indiana, AS, ia menjadi andalan universitasnya selama empat tahun. Selama menjadi pemain amatir tingkat mahasiswa ini ia beberapa kali menjadi tim nasional AS. Bahkan pada tahun 1932, Wooden dinobatkan sebagai College Basketball Player of the Year dan pencetak skor tertinggi pada tahun 1933.
 

Setelah lulus, ia sempat bermain di liga profesional Indianapolis Kautskys (klub ini kemudian berganti nama menjadi Indianapolis Jets), Whiting Ciesar All-Americans, dan Hammond Ciesar All-Americans. Selama menjadi pemain dalam periode ini ia merangkap jadi pelatih basket di sejumlah SMA. Bahkan setelah mundur sebagai pemain profesional, ia melanjutkan melatih tim SMA dengan rekor 218 menang dan hanya 42 kali kalah dalam 12 tahun karier pelatihnya di tingkat SMA.

Mulai tahun 1946, Wooden menangani tim bola basket Indiana State University hingga tahun 1948 sebelum kemudian pindah ke UCLA. Di UCLA-lah prestasi kepelatihannya mencapai prestasi tertinggi. Itu pun tak serta merta. Sejak mulai menangani tim basket kenamaan asal Los Angeles ini tahun 1948, prestasi terbaik baru bisa diraihnya tahun 1964. Dan setelah itu, ia mendominasi kompetisi bola basket tingkat universitas di AS hingga tahun 1975. Dalam kurun waktu 12 tahun ia menjuarainya sebanyak 10 kali, bahkan tujuh di antaranya secara berturut-turut. Timnya hanya gagal juara pada tahun 1963 dan 1974. Dengan prestasi kepelatihan seperti itu pantas jika ia menjadi pelatih bola basket legendaris, tak hanya di AS tetapi juga di dunia.

Prinsip kepelatihan yang bijak

Apa prinsip kepelatihan Sang Legenda? Ada sejumlah kata-kata bijak kepelatihannya yang pantas dicermati. Lima di antaranya sebagai berikut:

• Jangan biarkan apa yang tak dapat Anda lakukan mengganggu apa yang dapat Anda lakukan.
• Anda tidak bisa membiarkan pujian atau kritik mempengaruhi Anda. Jika salah satunya terjadi berarti itu kelemahan Anda.
• Memenangkan (suatu pertandingan) membutuhkan bakat, tapi untuk mengulang (kemenangan itu) membutuhkan karakter.
• Gagal itu tidak fatal, tapi gagal mungkin akan memberi perubahan.
• Jangan mengukur diri sendiri dengan apa yang telah dicapai, tetapi dengan apa yang harus Anda capai dengan kemampuan Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut