Laman

Minggu, 13 Februari 2011

Jane Goodall: Hidup di Hutan Demi Simpanse




Perempuan dan simpanse tentunya merupakan pasangan yang tak sebanding. Tetapi jika itu dikaitkan dengan Jane Goodall, akan muncul kisah cinta sejati. Jane Goodall begitu mencintai simpanse. Binatang primata ini pertama kali dikenalnya ketika ayahnya yang seorang pengusaha menghadiahinya sebuah boneka dengan ukuran dan bentuk layaknya simpanse sebenarnya

Ibunya, seorang novelis Inggris, semula menganggap boneka itu akan menakut-nakuti Jane kecil. Namun kenyataannya malah membuat Jane jatuh cinta pada hewan ini. Gara-gara boneka itu, Jane yang dilahirkan di Inggris pada 3 April 1934, masa kecilnya dikuasai mimpi-mimpi untuk hidup di hutan seperti Tarzan, tokoh fiksi yang paling disukainya.Mengetahui impian Jane, ibunya malah mengatakan, "Kamu akan bisa melakukan apapun yang kamu rancang dalam pikiranmu."
Nyatanya impian itu benar-benar datang saat Jane berusia 22 tahun. Saat itu Jane bekerja di sebuah studio film di London. Temannya di Kenya, Clo, mengundangnya datang ke Afrika. Sayangnya ia tak punya uang. Agar segera bisa mewujudkan mimpinya, ia harus bekerja keras mengumpulkan uang. Karena itu setiap malam ia bekerja sebagai pramusaji restoran dan menabung uangnya di bawah karpet di kamar tamu rumahnya.

Pada tahun 1957, setahun kemudian, ia berlayar menuju Kenya menggunakan uang hasil tabungannya itu dan tiba di Mombasa pada 2 April. Ia langsung merasa betah. Hanya saja untuk tinggal lama ia butuh pekerjaan. Beruntung temannya menyarankan agar Jane menelepon seorang arkeolog Kenya keturunan Inggris bernama Louis Leakey, siapa tahu dapat pekerjaan. Jane meneleponnya dan berpura-pura tertarik untuk mendiskusikan soal simpanse.

Akhirnya mereka bertemu. Louis kagum pada ketertarikan Jane akan binatang liar Afrika terutama pengetahuannya yang tinggi akan simpanse. Karena itu ia segera mengangkatnya jadi asisten dan mengirim Jane pada suatu proyek penelitian simpanse di Tanzania. Sejak itulah Jane terlibat dalam kehidupan hutan Afrika.
 
 
Karena latar belakang pendidikan Jane bukan perbinatangan, Louis beberapa kali mengirim Jane untuk belajar primatologi (ilmu yang mempelajari primata seperti monyet, simpanse, dan sejenisnya) dan etologi (ilmu perilaku hewan) di beberapa tempat, termasuk mengirimnya kembali ke Inggris. Bahkan Jane bisa belajar dan meraih PhD di bidang etologi dari Cambridge University tanpa perlu meraih gelar BA atau B.Sc dulu. Tahapan itu ganjil tapi itulah yang diperoleh Jane atas bantuan Louis.
 
Setelah itu Jane jadi ahli primatologi dan etologi terkenal dunia dan tinggal di hutan Tanzania hingga sekarang. Ia juga memprakrasai pendirian Jane Goodall Institute, sebuah lembaga nonprofit yang menangani konservasi simpanse dan binatang lainnya di Afrika. Atas prestasinya itu PBB bahkan mengangkatnya menjadi Duta Perdamaian PBB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut